Digi-LogAuthor : Naning Adiwoso Date Publicizing :2007-04-16 14:39:54
Perubahan jaman dan perkembangan teknologi membawa kita ke alam yang sangat berbeda dengan abad sebelumnya. Kecepatan di abad 21 ini membuat segala sesuatunya berubah, baik cara kerja, cara kita mendisain dan juga gaya hidup.
Di dalam konferensi yang khusus diadakan bagi para pengajar disain interior pada penghujung tahun 2006 di Korea… muncullah istilah digi-log yang merupakan kependekan (gabungan) dari kata digital dan analog.
Anak muda jaman sekarang dikenal dengan nama digital generation atau tumb generation karena selain mereka sangat menguasai dunia digital, generasi ini sangat dikenal dengan respon cepatnya melalui lincahnya jempol tangan mereka alias SMS. Mereka adalah generasi instant, yang menyukai segala sesuatu yang serba cepat Sedangkan analog mewakili generasi yang gaptek alias gagap teknologi. Keduan generasi ini masih sangat banyak terdapat di dunia ini, baik yang menempati posisi sebagai konsumen maupun sebagai pekerja (kaum profesional). Di satu pihak ada orang-orang yang sudah sangat canggih dalam hal digital, tetapi masih banyak juga yang masih analog, tetapi memiliki potensi yang besar. Nah, bagaimana kita mesti menyikapi hal itu dan apa upaya yang bisa kita lakukan untuk menjembatani ‘jurang’ tersebut?
Dari sudut pandang konsumen, bisa dibayangkan betapa tidak nyaman dan ‘takutnya’ seorang manula bila harus berhadapan dengan mesin ATM dengan segala tombol serta rangkaian nomor-nomor yang harus selalu diingat tanpa boleh dicatat dimana pun? Tentunya kaum manula akan merasa lebih nyaman bila berhadapan dengan seorang petugas bank yang manis dan sopan, yang akan bisa menjawab setiap pertanyaan dan membantu mereka menyelesaikan urusan yang berkenaan dengan uang, pembelian tiket, dlsb. Sebaliknya, bisa dikatakan hampir semua anak muda jaman sekarang jauh lebih suka menggunakan jari-jemari mereka dalam segala urusan, sebisa mungkin mengurangi keharusan untuk bicara (membuka mulut). Hal ini membuat kemampuan komunikasi verbal anak-anak muda jaman sekarang cenderung sangat rendah, yang pada gilirannya, sedikit banyak mempengaruhi kemampuan emosional mereka.
Dilihat dari sudut pandang antropologi, bila dulu yang disebut sebagai ruang adalah ruangan, sekarang kata yang sama bisa berarti sesuatu yang tidak nyata (virtual space).
Menurut Laura Watts , teknologi telepon genggam-lah yang telah membentuk thumb generation yang pada akhirnya telah menguasai 20% penduduk dunia ini. Dengan jempolnya mereka mengatur dan memimpin jalannya segala sesuatu, dari urusan bisnis, membuat foto, dialing, hingga main game.
Dilihat dari sudut pandang pendidikan, masih banyak pengajar yang belum mampu ‘memasuki’ dunia digital ini dan masih analog, padahal mereka harus mengajar anak-anak muda yang sudah sangat ‘digital. Mau tidak mau semua orang yang ingin bisa tetap bertahan di masa sekarang ini haruslah mampu ber-digital-ria atau menjadi bagian dari tumb generation, tanpa harus kehilangan ‘the touch’ atau sentuhan kemanusiaan yang sudah semakin langka. Karena itu yang sangat penting untuk diajarkan sekarang adalah bagaimana cara kerja disain untuk masa depan, bukan untuk hari ini, yaitu cara kerja disain untuk 5, 10, bahkan 15 tahun ke depan. Karena itulah sangat dibutuhkan orang-orang yang memiliki visi yang kuat, orang-orang yang berani untuk ‘bermimpi’.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Toyota dan Samsung sudah mulai mendisain rumah yang disebut “LIVING TOMMOROW”. Dalam disain tersebut digambarkan rumah-rumah yang serba digital dalam segala kegiatannya, sejak bangun di pagi hari hingga kembali tidur di malam harinya. Kamar mandi dan WC-nya pun langsung berhubungan dengan rumah sakit sehingga kemungkinan adanya penyakit di dalam rumah bisa dideteksi secara dini; apa yang terjadi di dalam aliran darah hingga apa yang terkandung di dalam kotoran Anda dapat langsung didiagnosa.
Semua material yang dipakai di dalam rumah tersebut adalah material-material self-cleaning dan self-maintaining. Kehidupan semacam itu tentunya akan terasa sangat asing dan ‘garing’ bagi kaum analog, tetapi sebaliknya akan menjadi satu bentuk kehidupan yang sangat ideal, menjadi idaman setiap anak muda dari tumb generation itu.
Lalu apa pengaruhnya bagi disain interior? Dalam hal ini disainer dituntut untuk lebih mengenal teknologi. Para disainer dipacu untuk menemukan cara untuk membuat disain yang dapat menyentuh sisi kemanusiaan konsumen dan menjadi “magnet”. Segala sesuatu harus diperhitunkan dengan arif agar ‘the feel’ dan ‘the touch’ tetap hadir. Selain itu, banjir informasi yang melanda kita sekarang ini menuntut disainer lebih jeli dalam memilih dan mengasah ‘lens of wisdom’ mereka dalam bekerja dan berkarya.
Di dalam digi-log mahasiwa diajak untuk melihat kearifan-kearifan sehingga dapat mendisain bagi semua kalangan sesuai kemampuan teknologi dan fisiknya.
Pembahasan pada hari ketiga atau hari terakhir konferensi adalah “aging society”, yang merupakan tema yang sangat penting mengingat semakin banyaknya kaum manula saat ini, yang pada umumnya mereka masih termasuk dalam generasi analog. Walaupun sudah tua secara usia, mereka tidaklah selalu harus lemah secara fisik ataupun menjadi orang-orang yang pasif. Sebaliknya mereka cenderung menjadi semakin ‘muda’ dan penuh semangat, bahkan hingga mencapai usia 60 tahun sekalipun tidak membuat mereka urung untuk menikmati hidup semaksimal mungkin.
Dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang menyeluruh tentang gaya hidup serta kebutuhan kedua generasi yang sangat berbeda itu untuk bisa melayani dan menciptakan disain yang sesuai dengan keinginan dan perilaku mereka, karena kedua generasi inilah yang akan mendominasi dunia ini selama beberapa tahun mendatang.
Tidak heran apabila produk-produk yang keluar sekarang dituntut menjadi semakin ringan dan mobile, masuklah nano teknologi di dalam disain.
Para manula semakin bertambah dan menuntut para disainer untuk “aware” akan kehadiran mereka dan keinginan mereka untuk tetap merasakan dan menikmati disain yang aman, nyaman, estetik sekaligus sehat. Maka muncullah disainer-disainer spesialis bagi kaum manula. Setiap negara memiliki bentuk dan keunikan masing-masing, tergantung dari budayanya. Disain untuk kaum manula merupakan sesuatu yang sangat menantang, karena disainer harus benar-benar mengerti betapa kemampuan fisik konsumen mereka ini akan terus melemah sejalan dengan terus bertambahnya usia, belum lagi masalah psikologis dan social, serta teknologi. Disainer harus peka dan jeli melihat teknologi atau fitur seperti apa yang akan bisa membuat kehidupan sehari-hari konsumen unik ini menjadi lebih ringan, efisien, semakin bahagia dan tetap menikmati masa tuanya dalam kondisi sehat dan penuh semangat.
Global warming yang terjadi semakin hari semakin terasa, menuntut dan mewajibkan kita sebagai disainer untuk mengenalkan dan menganjurkan pemakaian green products, selain itu kita juga harus dapat mendisain sesuai dengan perubahan iklim global saat ini. dimana kita dituntut untuk dapat menghasilkan disain yang hemat air, hemat energi dan tidak hanya minim pemeliharaan, tetapi terlebih lagi tidak memerlukan pemeliharaan.
Tantangan terbesar yang harus kita lalui dalam menghadapi masa depan adalah menciptakan sustainable design, mengerti dan terus menggalakkan penggunaan green products, memahami dan mampu memenuhi kebutuhan serta keinginan dua macam konsumen yang memiliki perilaku dan gaya hidup yang sangat berlawanan, tanpa kehilangan tujuan utama kita untuk menyelamatkan planet bumi kita yang tercinta ini.